PENGUMUMAN Mahasiswa Baru 2017

Assalamualaikum Wr Wb
Terimakasih telah mendaftar di UNMA Jakarta, berikut akan kami sampaikan beberapa hal yg perlu diingat:

PENGUMUMAN


1. Awal kegiatan kampus dimulai pada tgl 9 Sept’17 jam 10.00 bertempat di AULA UNMA Jkt (lt dasar) dengan agenda acara

  • pengisian KRS (Kartu Rancangan Studi) semester ganjil
  • melengkapi perayaratan perkuliahan jika merasa belum lengkap
    (FC ijazah 4 lembar, FC SKHUN 4 lembar, FC KTP 1 lembar, pasfoto 3×4 berwarna 4 lembar)
  • melunasi pembayaran saat awal pendaftaran jika merasa belum lunas (total 600rb)
  • sosialisasi orientasi mahasiswa baru (oleh panitia orientasi)
  • pembagian buku orientasi dan jaket almamater jika sudah melengkapi syarat dan melunasi pendaftaran
  • penjelasan mengenai proses belajar mengajar

2. Untuk SPP dibayar per tgl 23 Sept’17

3. Orientasi MABA dilaksanakan pada tgl 16 Sept’17

4. Awal kegiatan belajar mengajar perkuliahan tgl 23 Sept’17


 

Dimohon untuk datang tepat waktu. Terimakasih
Wassalamualaikum Wr Wb

Sekretariat UNMA Jakarta
Mathla’ul Anwar Jakarta

Peringatan 101 Tahun Mathaul Anwar dan adanya Klaim Lembaga Yang Sama

Pandeglang, Mathlaul Anwar Jakarta– Halal bi halal dan peringatan 101 tahun Mathla’ul Anwar di perguruan MA Pusat Menes berlangsung meriah. Acara yang cukup menyedot perhatian keluarga besar MA, beberapa penceramah hadir diantaranya Prof. Dr. Bambang Pranowo, MA, Ketua Umum PBMA dan Ketua Majelis Amanah MA.

Dalam sambutannnya Ketua Majelis Amanah Mathla’ul Anwar, Drs.H.M. Irsyad Djuwaeli menjelaskan keberadaan Mathla’ul Anwar yang sudah bisa perlahan naik kelas menjadi organisasi yang sejajar dengan dua organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Di setiap kempatan, presiden RI Indonesia selalu mengundang Pengurus Besar Mathla’ul Anwar di setiap acara.

Mathlaul Anwar Jakarta

Drs KH.M.Irsyad Djuwaeli | Mathlaul Anwar Jakarta

Ia sempat menyinggung bahwa Mathla’ul Anwar, alumnusnya telah banyak melahirkan lembaga lembaga pendidikan terutama di sekitar Menes di mana MA berdiri, dan masih memiliki hubungan yang baik dengan MA. Yang ia sayangkan adalah adanya lembaga yang mengklaim MA dengan nama tambahan lain. Hal ini tentu saja merugikan MA, bahkan mengklaim berdirinya sama dengan MA.

Ia mengakui bahwa perguruan Mathlaul Anwar pusat Menes pernah menjadi tempat Muktamar Nahdatul Ulama pada tahun 1938, di mana KH Mas Abdurrahman dan KH E. Yasin memang pengurus NU Pandeglang. Namun keberadaan madrasah tetap bernama Mathla’ul Anwar, tidak ada embel embel lainnya.

“Pada dasarnya kami baik baik saja dengan lembaga tersebut, silahkan memakai nama Mathla’ul Anwar di depannya, tapi jangan pernah mengklaim tokoh dan tahun berdirinya sama donk, ” tegas Irsyad

Senada dengan Irsyad, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar,Dr. Akhsan Sukroni, di sela-sela pemberian penghargaan kepada keluarga Pendiri Mathla’ul Anwar, memaparkan bahwa klaim adanya lembaga dengan tambahan nama lain terus terang sangat merugikan Mathlaul Anwar. Dijelaskan olehnya selama ini nama dan organisasi serta lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar merupakan organisasi yang bukan milik golongan atau keluarga, melainkan milik ummat.

Mungkin yang dimaksud oleh Irsyad Djuwaeli dan Dr. Akhsan Sukroni adalah Malnu (Mathla’ul Anwar li Nadhatul Ulama) karena redaksi mencatat bahwa di Menes berdiri beberapa perguruan pendidikan Islam seperti Anwarul Hidayah di Ciputri Menes, Perguruan Malnu (Mathla’ul Anwar li Nahdatil Ulama) di alun alun Menes, dan Perguruan Ahlussunah wal jamaah yang jaraknya sepelemparan batu dari perguruan Ma Pusat Menes.

Peletakan Batu Pertama Islamic Center Mathla’ul Anwar dan Mesjid

Peletakan Batu Pertama Islamic Center Mathla’ul Anwar dan Mesjid H.Herwansyah

Mathla’ul Anwar Jakarta –  Pada hari Minggu, 23 Juli 2017, bertempat di Desa Kadu Suluh Kecamatan Cikedal, Pandeglang Banten, telah dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Islamic Center Mathla’ul Anwar dan Mesjid H.Herwansyah

Dihadiri oleh Pengurus Besar Mathla’ul Anwar yang diwakili oleh KH.Dr. Jihaduddin, Pengurus Perguruan MA Menes, Camat Cikedal, Kepala Desa Karyasari, jajaran akademik Sekolah-sekolah MA yang ada di Menes,Ibu-ibu muslimat,  tokoh masyarakat serta para alumni MA terutama Paguyuban Alumni Mts MA Pusat angkatan 1991.

 

 kelas karyawan jakarta

Mathla’ul Anwar Jakarta, kelas karyawan jakarta

H.Herwansyah dan Hj. Serli Andriani dalam sambutan dan siaran pers yang diterima redaksi mengatakan ucapan terima kasih kepada Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, bapak dan Ibu guru dan seluruh undangan yang berkenan hadir wabil khusus teman-teman sahabat Hj.Serli alumni Tsanawiyah MA Pusat Menes angkatan 91 yang telah berperan serta, meluangkan waktu, energi dan pikiran, bersinergi terealisasinya rencana ini dan semua pihak yang berpartisipasi.

Sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT, sepenuhnya saya H. Herwansyah memberikan dukungan, baik secara moril maupun materil kepada istri saya tercinta Hj.Serli Andriani guna mewujudkan cita-citanya dalam melakukan syiar dan dakwah, maka saya sangat mendukung dan memfasilitasi segala pembiayaan, terhadap rencana pendirian lembaga pendidikan dan sarana ibadah yang tertuang dalam konsep Islamic Center yang diberi nama ISLAMIC CENTER MATHLA’UL ANWAR dan MESJID H.HERWANSYAH , mesjid tersebut ada dalam kompleks Islamic Center, semoga semua ini menjadi nilai ibadah kepada Allah SWT.

 

Adapun tujuan dari pembangunan Islamic Center ini adalah :

  1. Memberikan fasilitas sarana dan prasarana publik dalam bidang pendidikan dan dakwah, khususnya bagi warga Mathla’ul Anwar seperti : sentra ibadah, sentra bisnis seperti ATM, fasilitas kesehatan dan mini market yang tergabung dalam kompleks Islamic Center.
  2. Sentra komunikasi, informasi dan Rest Area bagi masyarakat pengguna transportasi dari dan keluar daerah Banten yang melakukan perjalanan/musafir.
  3. Menjadi simbol dan kebanggaan bagi warga Mathla’ul Anwar khususnya, umumnya warga Banten dan sekitarnya.

Mathla’ul Anwar Hadir di Eropa

Jakarta –  Merespon permohonan warga Mathla’ul Anwar di Eropa, Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA)  KH Ahmad Sadeli Karim, Lc pekan ini dalam kunjungannya ke Belanda, (2/5) meresmikan Pengurus Perwakilan (PP) Mathla’ul  Anwar Eropa.

Melalui pesan selulernya kepada redaksi, Kiai Sadeli mengungkapkan “permohonan membentuk PPMA Eropa kami putuskan dalam rapat pleno bulan Maret lalu di mana semua peserta rapat menyetujui permohonan dari warga MA yang bermukim di Eropa ” ungkapnya.

Dalam sejarah MA baru kali ini pengurus wilayah eropa terbentuk. Sebelumnya di tahun 1960-an MA telah memiliki pengurus wilayah di luar negeri seperti di Mesir dan Arab Saudi yang rata rata pengurusnya adalah alumnus Mathla’ul Anwar.

Kiai Sadeli berharap dengan terbentuknya PPMA Eropa, “semoga kiprah Mathla’ul Anwar yang membawa pesan pesan Islam yang Rahmatan lil’alamin dan memegang teguh Ahlussunah Wal Jamaah serta Islam yang ramah bisa berkiprah di benua biru” harapnya. (DEF)

Inilah Susunan Pengurus Perwakilan Mathla’ul Anwar Eropa

kuliah karyawan jakarta

Mathla’ul Anwar Jakarta, kelas karyawan jakarta

Pengabdian KKN untuk Kampus dan Masyarakat

Bertempat di Masjid Raya Al Amanah Mathla’ul Anwar Jl. Al Amanah Grogol Petamburan Jakarta Barat, Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar Jakarta mengadakan tabligh akbar yang melibatkan beberapa mahasiswa dan pengurus Universitas Mathlaul Anwar Jakarta.

Kegiatan pada 26 Maret 2017 tersebut mendatangkan beberapa tokoh-tokoh penting dan artis ibukota, dan di hadiri warga sekitar beserta warga DKI jakarta . Banyak agenda yang ditampilkan diantaranya seperti ceramah tokoh ulama, kegaitan kesehatan gratis beserta bazar yang beraneka ragam.

Kegiatan Tabligh Akbar ” Gebyar Cahaya Untuk Kebaikan ” tersebut di kelola oleh beberapa Mahasiswa yang terbentuk dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) yaitu adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa termasuk sukses dan berhasil. Karena di dalam kegiatan Tabligh Akbar tersebut terdapat beberapa unsur pengabdian para mahasiswa universitas marthlaul anwar jakarta, dan hal tersebut merupakan suatu syarat yang diberikan oleh perguruan tinggi sebelum mahasiswa lulus.

Seminar bedah buku dan Entreprenuer Bisnis Asuransi

Jakarta, Buku jangan grogi karya Wishnu soehardjo launching dan bedah buku, yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN mathla’ul Anwar Jakarta. Acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua yayasan mathla’ul Anwar yang di wakili bendahara, ibu Hj. Trisnawati Ahad (22/04/2017)

Dalam kegiatan ini dihadiri peserta yang tidak hanya dari mahasiswa mathla’ul Anwar Jakarta, tapi juga dihadiri beberapa Organisai kepemudaan Jakarta barat, Sekolah menengah Kejuruan Dutamas Jelambar, dan beberapa penulis senior lainnya yang turut hadir mengikuti kegiatan tersebut.

“Ayo kita sebagai mahasiswa bangkit karena kita membutuhkan pemuda yang berprestasi, jadikanlah ilmu yang tersirat dari buku ini sebagai wadah untuk mencetak prestasi sebanyak-banyaknya” tegas mahasiswa UNMA Jakarta semester 6 yang sedang melaksanakan KKN.

Camelia Malik Turut Meriahkan Tabligh Akbar Cahaya Kebaikan

Jakarta, 26 Maret 2017, bertempat di Masjid Raya Al Amanah Mathla’ul Anwar Jl. Al Amanah No 1 Kavling Polri Wijayakusuma Grogol Petamburan Jakarta Barat, Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar Jakarta dan Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar DKI Jakarta menggelar Tabligh Akbar bertema “Gebyar Cahaya Untuk Kebaikan”

Ribuan orang terdiri dari warga sekitar dan warga MA DKI Jakarta menyemut di dalam dan dan luar kompleks Pendidikan MA Jelambar hanya untuk menyaksikan ceramah, KH. Tengku Zulkarneaen (Majelis Fatwa Mathla’ul Anwar)  dan KH. M Zaitun Rasmin, Lc, MA. Nampak Hadir Ketua Majelis Amanah MA, H.M.Irsjad Djuwaeli, MM, serta Sekretaris Jenderal Mathla’ul Anwar, KH. Oke Setiadi.

Dalam rangkaian acara tabligh akbar ini kehadiran Camelia Malik turut memeriahkan acara ini, dengan menyumbangkan beberapa lagu Islami di hadapan Jamaaah yang hadir. Menurut Ketua Panitia Pelaksana, H. Ir. Andi Yudi Hendriawan yang akrab dipanggil AYH, mengatakan bahwa acara ini dalam rangka silaturahim dan sosialisasi gagasan pemikiran Mathla’ul Anwar kepada Warga sekitar dan warga MA.

Dalam rangkaian acara ini juga diadakan pula beberapa kegiatan antara lain pelatihan usaha rumah tangga yakni, pembuatan sabun cuci dan pewangi pakaian, Pengobatan gratis dan bazar kebutuhan rumah tangga, pungkas AYH. d

Mahasiswa Fakultas Hukum UNMA Jakarta dan Banten Kunjungi Lapas Sukamiskin Bandung

Dalam rangka PKL  Jurusan Ilmu Hukum Universitas Mathlaul Anwar (UNMA)  Banten dan Universitas Mathlaul Anwar Jakarta, mengajak para mahasiswa semester akhir untuk mengunjungi Lapas Sukamiskin di Bandung.

Acara PKL tersebut berlangsung selama tiga hari, dengan agenda kunjungan ke beberapa instansi pemerintah dan LSM yang berhubungan dengan hukum, yaitu Indonesian Corruption Watch (ICW).

Instansi pemerintahan tersebut yaitu MK, MA, DPR RI komisi 3 dan di Bandung yaitu LP Sukamiskin Bandung.

Dengan mengikuti acara tersebut diharapkan para mahasiswa lebih mengetahui dan memahami dunia  hukum secara praktek di Indonesia.

Kampus UNMA Banten dan Jakarta terus meningkatkan kualitas pendidikannya agar lulusan dari kampus betul-betul memiliki kualitas yang dibutuhkan dunia kerja dan masyarakat. Kampus UNMA saat ini didukung dengan berbagai fakultas yang dimiliki, yaitu Fakultas Agama, Ekonomi, Hukum, Kesehatan, Sosial Politik, Pendidikan, Komputer & Informatika, Matematika, Teknik dan Program Pasca sarjana.

Perubahan Struktur Pengurus Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar

Jakarta, Baru-baru ini Ketua dewan Pembina Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar, Sebuah yayasan yang tergabung dengan ormas Mathla’ul Anwar mengeluarkan maklumat perubahan struktur kepengurusan.  Struktur pengurus yang baru ini adalah hasil rapat Dewan Pembina yayasan tersebut untuk menggantikan kepengurusan yang vakum.

Komplek Al Amanah Mathla’ul Anwar, Jelambar Jakarta

Menurut Ir.H. Andi Yudi Hendriawan, selaku ketua yayasan terpilih periode 2017-2022 mengatakan bahwa Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perjuangan dan Khittah Mathla’ul Anwar yg bergerak di Bidang Pendidikan, Dakwah & Sosial dan Ekonomi Umat, saat ditemui mathla, senin

Ia menambahkan fokus garapan utama yayasan ini pada pengembangan Universitas Mathla’ul Anwar Jakarta (pendidikan), pemberdayaan masjid Raya Al Amanah (dakwah dan sosial) dan bisnis partnership (pemberdayaan ekonomi umat).

 

Berikut Komposisi Yayasan Al-Amanah Mathla’ul Anwar 2017-2022

Maklumat Dewan Pembina  Yayasan Al Amanah Mathla’ul Anwar

Perubahan komposisi pengurus Yayasan Al Amanah Mathla’ul Anwar 2017 – 2022

PEMBINA

Ketua :
Drs. H. M. Irsjad Djuwaeli, MM
Wakil ketua:
Drs. H.Bambang Sigit Goentoro
Anggota:
~ Prof Dr. Ir. H. Herman Haeruman, Js MF
~M. Hutama Yudha Amanat,SH
~ H. Usep Fathuddin
~ H. Kris Suyanto, JF

PENGAWAS
Ketua;
H. Oke Setiadi, M.Sc
Anggota:
~ Charmeida Tjokrosuwarno, MA
~ Rafi’an

PENGURUS HARIAN

Ketua Umum:
Ir. H. Andi Yudi Hendriawan, MRE

Ketua Ekonomi:
Wisnu Soehardjo

Ketua Pendidikan
Ny. Hj. RA. Yani S Munif

Ketua Keagamaan:
Drs. KH. Salim Thohir

Ketua pemberdayaan Umat:
Dr. Akhsan Sukroni, M.Si

Sekretaris Umum:
Dr. H. Ukun Kurnia
Sekretaris :
Dadan Jaya Hikmat, SH

Bendahara:
Hj. Trisna Ningsih Yuliati, SE
Wakil bendahara:
Taryanto, SE, MM

Ditetapkan di Jakarta,
Tgl 1 April 2017

Drs. H. M. Irsjad Djuwaeli, MM
Ketua Dewan Pembina

KH. Mas Abdurahman bin KH. Mas Djamal Aldjanakawi

Sang Terbitnya Cahaya

Mas Abdurahman adalah putra dari K. Mas Djamal Al-Djanakawi yang lahir pada tahun 1868 di Kampung Janaka, tepatnya di lereng Gunung Haseupan di Distrik Labuan Kawedanan Caringin Kabupaten Pandeglang Banten.

Gelar “Mas” merupakan gelar kehormatan yang diberikan turun temurun yang berasal dari nama seorang senopati Pajajaran bernama Mas Jong dan Agus Ju. Mereka adalah tangan kanan raja Pajajaran bernama Pucuk Umun. Ketika Kerajaan Pajajaran ditaklukan oleh Sultan Maulana Hasanudin Putra Syarief Hidayatullah Sultan Cirebon, Pucuk Umun lari ke selatan, sedangkan Senopati Mas Jong dan Agus Ju menyerahkan diri kepada Sultan Maulana Hasanudin. Kemudian Mas Jong dan Agus Ju memeluk agama Islam serta mendapat kedudukanpenting sebagai senopati Kasultanan Banten dengan gelar kehormatan Ratu Bagus Ju dan Kimas Jong. Pada masa keruntuhan kasultanan Banten, para ulama/kyai dan guru agama  keluarga besar kasultanan Banten meninggalkan istana masuk ke daerah pedalaman. Mereka menjauhkan diri dari keramaian kota, karena Kesultanan sudah berubah menjadi Keresidenan Banten yang dipimpin oleh seorang Residen Bangsa Belanda. Dengan berakhirnya kekuasaan Sultan Banten sebagai pusat dakwah islam, Para Ulama/Kiai, guru agama yang semula bertugas secara resmi sabagi perangkat Kesultanan, kini menjadi orang buronan yang selalu diawasi dan di kejar-kejar dianggap sabagai sumber malapetaka dan pemberontak terhadap pemerintahan Belanda, termasuk keturunan Mas Jong dan Agus Ju pergi mininggalkan istana Kesultanan masuk ke pedalaman di Lereng Gunung Haseupan tepatnya dusun Janaka dalam rangka menusun kembali kekuatan untuk bergerilya melawan Belanda, termasuk di antaranya K. Mas Djamal Al Djanakawi ayahnya KH. Mas Abdurahman.

P E N D I D I K A N

Walaupun K. Mas Djamal Al Djanakawi tinggal di sebuah dusun terpencil yang sukar di jangkau, namun ia memiliki perhatian dan motivasi yang tinggi terhadap masa depan putranya. Ia berfalsafah pohon pisang “bahwa ia tidak ingin meniggal dunia sebelum putranya berhasil atau memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai” .

Sebagaimana pohon pisang walaupun ditebang beberapa kali, tetap akan terus mengeluarkan tunasnya, setelah menghasilkan buah, baru ia rela untuk mati. Dengan dasr ilmu pengetahuan yang didapat dari ayahnya sendiri terutama pengetahuan dasar baca Al-Qur’an, selanjutnya KH. Mas Abdurahman dididik oleh orang lain untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Diantaranya KH. Shahib di Kampung Kadupinang. Karena jaraknya cukup jauh, sedangkan alat transportasi belum ada., satu-satunya jalan adalah di gendong ayahnya. Setelah cukup dewasa. KH Mas Abdurahman dititipkan di sebuah Pondok Pesantren Al-Qur’an yang berada di daerah Serang dibawah bimbingan KH. Ma’mun yaitu seorang guru spesialis dalam bidang Al-Qur’an. Setelah puas melihat putra-nya dapat menyelesaikan pendidikan di pesantern Al-Qur’an, beliau berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah Haji, sehingga ia Wafat. Tinggalah KH. Mas Abdurahman yang di rungdung duka, ditinggalkan ayah tercinta tempat mengadu dan harapan pergi untuk selama-lamanya, tetapi peristwa ini tidak melarutkan dalam kedukaan

MENUNAIKAN IBADAH HAJI

Pada tahun 1905 berangkatlah KH. Mas Abdurahman ke Mekah walaupun dengan bekal hanya cukup untuk ongkos pergi saja, tetapi dengan tekad  dan kemauan kuat beliau berangkat dengan tujuan disamping menunaikan ibadah haji, ia juga berniat bermukim untuk menuntut ilmu agama sekaligus berziarah ke pusara ayahandanya walaupuhn tidak jelas dimana kuburannya. Karena kuburan di sana tidak meiliki tanda yang tertulis dalam batu nisan seperti di Indonesia, namun ia merasa puas  dapat berziarah secara dekat.

Semua hambatan dan rintangan telah dihadapinya, baik uang saku yang terbatas maupun kondisi alam di Mekkah yang tidak sesuai dengan kondisi alam Indonesia. Negeri Mekkah pada waktu itu tergolong negeri yang masih miskin, tidak mempunyai sumber ekonomi tetap. Satu-satunya devisa yang ada  adalah dari datangnya musim haji, saat itulah penduduk negeri Mekkah mendpat penghasilan untuk bekal selama satu tahun sampai datangnya musim haji berikutnya. Namun karena tekad dan keingin beliau sangat kuat tertanam dalam hatinya, segala hambatan dan rintangan serta kesusahannya dalam menuntut ilmu   dapat di atasi. Selama diperantauan beliau tidak meiliki pemondokan yang tetap, tempatnya selama bermukim adalah di Masjidil Haram, baik tidur maupun belajar. Pakaianpun hanya yang melekat di badannya, apabila dicuci ditunggunya sampai kering. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya kadang-kadang ia pergi ke luar kota mencari kayu bakar untuk dijual dan hasilnya ditukar dengan beras. Karena sulitnya mendapatkan bahan makanan, beras tersebut dicampur dengan pasir , satu sendok beras berbanding satu liter pasir ditambah air yang banyak agar dikala makan dipilihlah butiran nasi satu persatu, perut jadi kenyang akibat terlalu lama memilah-milah beras dan pasir sehingga timbulnya rasa kesal memilih butiran nasi tersebut. Hal ini dilakukan hampir setiap hari selama sepuluh tahun beliau bermukim, kecuali jika musim haji tiba, beliau banyak mendapat penghasilan dari hasil mengantar jama’ah haji yang ziarah

Seluruh pelajaran diikutinya dengan penuh perhatian dan ketekunan walau sarana serta peralatan menulis tidak lengkap, kebanyakan cukup hanya mendengarkan. Tetapi keberhasilan dan kemahirannya dalam menyerap ilmu pengetahuan khususnya bidang agama sangat mendalaminya, diantaranya ilmu bahasa Arab, Fiqh, Usul Fiqh, Nahu, Shorof, Balaghah, Tafsir, Ilmu Ushul, Tasawuf dll

Diantara guru- guru beliau yang berasal dari Indonesia yakni, Syech Nawawi Al-Bantani, berasal dari Tanahara yang terkenal dengan kitab tafsirnya dan Syech Achmad Chotib yang berasal dari Minangkabau yang terkenal dengan Ilmu Tasyawufnya.

Dengan keberhasilannya menguasai ilmu pengetahuan agama, KH. Mas Abdurahman direncanakan diangkat sebagai BADAK (asisten dosen) pengajian di Masjidil Haram, tetapi tidak berlanjut karena adanya permohonan dari para Ulama/Kyai Banten (Menes) agar beliau segera kemabli ke tanah air.

Selama di Tanah suci beliau belajar bersama dengan KH. Hasyim Asy’hari dari Surabaya yang kemudian dikenal sebagai pendiri Nahdlatul ‘Ulama tahun 1926 dan KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah tahun 1912

 

KEMBALI KE TANAH AIR

Sejak para ulama/kyai meninggalkan kesultanan, masyarakat umumnya jarang sekali memperoleh kesempatan belajar menuntut ilmu agama (Islam) secara memadai. Untungnya masyarakat Banten telah memiliki jiwa keislaman yang tertancap secara mendalam, sehingga setiap keluarga merasa berkewajiban mewariskan ilmu agama secara turun temurun sekalipun masih berbaur dengan takhayul, ibadah dan syari’ah dengan bid’ah dan khurafatnya.

Secara umum kondisi masyarakat Banten khususnya dari segi pendidikan memang sangat memprihatinkan, sekolah – sekolah yang dibangun oleh penjajah Belanda tidak disiapkan untuk pribumi, hanya golongan tertentu yang bisa masuk disekolah tersebut. Atas keprihatinan tersebut,  para kyai mengadakan musyawarah bertempat di Kampung Kananga dipimpin oleh KH. Entol Mohammad Yasin dan KH. Tb. Mohammad Sholeh serta ulama-ulama di sekitar Menes. Akhirnya musyawarah tersebut mengambil keputusan untyuk memanggil pulang seorang pemuda bernama KH. Mas Abdurahman yang sedang belajar di Mekkah Al Mukaromah. Ia Tengah menimba ilmu Islam kepada seorang guru besar yang berasal dari Banten yakbi Syech Mohammad Nawawi Al-Bantani yang telah diakui oleh seluruh dunia Islam tentang kebesarannya sebagai seorang faqih dengan karya-karya tulisnya dalam berbagai cabang ilmu Islam. Dengan adanya keputusan tersebut, KH. Entol Mohammad Yasin segera mengirim surat beserta ongkos pulang untuk KH.Mas Abdurahman yang dititipkan melalui seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Sebelumnya ia menolak permintaan pulang tersebut dan berat hati meninggalkan tanah suci. Dengan menumpang kapal semprong milik Kongsi KPM beliau akhirnya KH. MAs Abdurahman kembali ke tanah air yang sebelumnya beristirahat terlebih dahulu selama tiga hari di makan Nabi Ibrahim.

Mas Abdurahman bin K. MAs Jamal Al-Djanakawi kembali dari tanah suci Mekkah sekitar Tahun 1910 M. Dengan kehadiran kyai muda yang penuh semangat untuk berjuang mengadakan pembaharuan Islam bersama-sama kyai-kyai sepuh, dapatlah diharapkan untuk membawa umat Islam keluar dari alam gelap gulita ke jalan hidup yang terang benderang. Sekembalinya dari tanah suci, KH. Mas Abdurahman dinikahkan dengan putrid KH.Tb. Mohammad Sholeh yakni Nyi. Enong. Selang beberapa bulan, Nyi enong beserta ibundanya diberangkatkan untuk menunaikan ibdah haji. Namun nasib malang tak dapat dihindarkan, sesampainya di pelabuhan Tanjung Priok, Nyi Enong jatuh sakit dan maut merenggutnya untuk kembali ke Illahi Robbi. Urunglah niat ibundanyapun tak jadi berangkat. Tragedi ini adalah suatu ujian bagi KH. Mas Abdurahman untuk selalu tabah dan sabar dalam mendekatkan diri kepada sang penciptaNya.

Sepeninggal putrunya, KH. Tb. Mohammad Sholeh kedatangan seorang saudagar Menes yang terkenal dimasanya bernama H. Alimemohon untuk menjodohkan putrinya bernama Aminah dengan KH. Mas Abudrahman. Kiranya jodoh berada ditangan Allah, pernikahanpun telah terlaksana atas IrodatNya

BERDIRINYA MATHLA’UL ANWAR

Langkah pertama yang dilakukan KH. Mas Abdurahman dismaping mengadakan pengajian dan tabliq ke berbagai tempat, juga menyelenggarakan pendidikan pondok pesantren. Dengan segala keterbatasannya, pendidikan pondok pesantren dirasakan kurang sistematis, baik dalam hal sarana, dana, manajemen maupun kader mubaliq kurang dapat dihasilan. Ditambah pula dengan kondisi yang kurang aman dari berbagai pengawasan oleh Pemerintah Belanda. Maka para kyai mengadakan musyawarah di antaranya KH. Entol Mohamad Yasin sebagai kyai yang tergolong intelektual, beliau cenderung membentuk pendidikan sistem madrasah dan hl ini sependapat dengan KH. Mas Abdurahman. Beranjak dari sini, akhirnya pertemuan melahirkan kata sepakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan dan diasuh secara jema’ah dengan mengkoordinasikanberbagai disiplin ilmu terutama ilmu Islam yang dianggap merupakan kebutuhan yang mendesak. Lembaga pendidikan tersebut bukan lagi bersifat tradisional seperti pondok pesantren yang telah ada, namun harus ditingkatkan menjadi bentuk madrasah. Untuk mencapai tujuan luhur ini sudah tentu dibutuhkan tenaga ahli dalam bidangnya. Dari sekian banyak nama madrasah yang diajukan, maka musyawarah memutuskan bahwa pemberian nama lembaga pendidikan diserahkan kepada KH. Mas Abdurahman untuk melakukan “istikhoroh”. Dari hasil istikhoroh tersebut maka lahirlah nama “ MATHLA’UL ANWAR” yang mempunyai makna “ TERBITNYA CAHAYA” pada tanggal 10 Ramadhan 1334 H bertepatan dengan Tanggal 10 Juli 1916 M yang ditetapkan sebagai tanggal lahirnya Organisasi Mathla’ul Anwar. Sebagi mudir atau direktur adalah KH. Mas Abdurahman dengan presiden bistirnya KH. Entol Mohammad Yasin dari Kampung Kaduhawuk (Menes) serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat sekitar Menes. Unutk sementara kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di rumah KH. Mustaghfiri seorang dermawan Menes yang bersedia rumahnya digunakan untuk tempat belajar mengajar. Selanjutnya dengan modal wakaf tanah dari Ki Demang Entol Djasudin yang terletak di pinggir jalan raya, dibangunlah sebuah gedung madrasah dengan cara gotong royong oleh seluruh masyarakat Menes pada tahun 1920. Bangunan pertama ini berukuran seluas 1000 m2 (20 m x 50 m) yang samapi saat ini masih berfungsi  sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan mulai dari TK sampai Madrasah Aliyah (sederajat SMA). Gedung ini tidak lain adalah pusat perguruan Mathla’ul Anwar yang terletak di Kota Menes Pandeglang. Dari madrasah inilah mulai dihasilkan kader-kader mubaligh serta kyai dan ulama Mathla’ul Anwar ayng kemudian bergerak menyebar luaskan Mathla’ul Anwar keluar daerah pandeglang seperti ke Kabupaten Lebak, Serang, Tangerang, Bogor, Karawang sampai ke residenan Lampung. PAda Tahun 1936 jumlah madrasah MAthla’ul Anwar telah mencapai 40 madrasah yang tersebar di 7 daerah tersebut. Perhatian masyarakat terhadap Mathla’ul Anwar tidak lagi terbatas dari kalangan pelajar, tetapi kaum intelektualpun mulai berpartisipasi aktif. Dengan proses perkembangannya sangat pesat, maka timbulah gagasan-gagasan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perkembangan organisasinya baik bersifat teknis pedagogis maupun secara administratif organisasi dan keanggotaannya. Maka pada Tahun 1936 diadakan kongres pertama Mathla’ul Anwar dengan menghasilkan keputusan-keptusan penting diantaranya :

  1. Mengesahkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang meliputi : dikukuhkannya Nama, Waktu dan Tempat lahirnya Mathla’ul Anwar berdasarkan Islam sepanjang tuntunan Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang bersumberkan Al-Qur’an, Al-Hadits, Al-Ijma dan Al-Qiyas
  2. Menetapkan susunan Pengurus Besar (Hoofd Bestuur) antara lain :
    1. Entol Mohammad Yasin sebagai Ketua Umum (Presiden)
    2. . Abdulmukti sebagai Wakil Ketua (Vice Presiden)
    3. Ismail sebagai Sekretaris

 

Untuk terlaksananya rencana pelajaran dengan baik dan sesuai dengan ketentuan, maka diangkatlah seorang Inspektur (pengawas) yang berkedudukan di Pusat. Jabatan ini diamanatkan kepada KH. Mas Abdurahman samapi beliau wafat pada Tahun 1943 M

Para Ulama dan Kyai yang termasuk pendiri Mathla’ul Anwar selain KH. Mas Abdurahman, KH. Entol Mohammad Yasin dan KH. Tb.Mohammad Sholeh juga diantaranya KH. Sulaeman, Kyai Daud, KH.Abdul Mukti, Kyai Syaifudin, Kyai Rusdi, E. Dawawi, E. Djasudin, turut pula golongan muda seperti E. Ismail dll. Perlu dicatat bahwa KH.Mas Abdurahman dan KH.Entol Mohammad Yasin merupakan “Dwi Tunggal”

Adapun ulama dan kyai  semasa dan satu generasi dengan KH. MAs Abdurahman diantaranya : Kyai Asnawi (Caringin), Kyai Tegal, Kyai Sugiri (Mandalawangi), Kyai Ruyani  (Kadupinang), Kyai Mansyur (Jakarta)

Generasi dan murid – murid pertama yang menjadi pejuang dan penerus Mathla’ul Anwar antara lain :

  1. KH. Mohammad Ra’is
  2. KH. Abdul Latif
  3. KH. Syafei
  4. KH. Uwes Abubakar
  5. KH. Syidik
  6. KH. M. Yunan
  7. KH.Hudori
  8. KH. Achad Suhaemi
  9. KH. Suhaemi
  10. K.Tb. Achmad
  11. KH. Moch. Ichsan

 

Untuk memudahkan dalam mempelajari pengetahuan agama, KH. Mas Abdurahman banyak menyusun karya-karya tulis dan kitab-kitabnya yang disusun dalam bahasa sunda diantaranya :

  1. Tajwid
  2. Tauhid
  3. Nahu Ajurumiyah jilid I, II, dan III
  4. Syaraf Taqlif
  5. Ilmu Balaghah/Bayan
  6. Djawa’iz
  7. Tauhfah
  8. Munhajulqawin

 

Fatwa dan pandangan KH. Mas Abdurahman terhadap pemerintah colonial Belanda adalah kafir, menerima gaji dari dari pemerintah colonial Belanda adalah haram, sampai – sampai anaknyapuntidak bolehmasuk sekolah yang didirikan oleh kolonial Belanda. Satu lagi fatwanya, jika seseorang dinikahkan oleh Naib/onder maka dianggap tidak syah dan harus dinikahkan kembali oleh kyai yang bukan pegawai colonial Belanda

 

(disusun dari berbagai sumber dari sejarah KH. Mas Abdurahman)

Hubungi Kami